Di luar cahaya matahari menyengat. Seakan hendak membakar kulit penduduk bumi. Cahaya itu masuk ke celah-celah jendela kamarku. Dan bisa ditebak silaunya menerpa mataku. Aku ingin melihat matahari tak seganas ini. Aku ingin melihat cahaya matahari yang lembut dan menghangatkan hati. Tapi, sungguh tak ada lagi harapan itu. Bahkan kakakku Mentari berkata padaku “Buat apa kamu menunggu matahari itu jinak. Tak ada gunanya. Hanya akan membuatmu kecewa.” Aku tak menyangka kakakku begitu membenci matahari. Katanya matahari itu jahat. Hendak memakan manusia. Sengaja memancarkan cahayanya agar manusia mengaguminya. Tapi, bagiku matahari itu indah. Tak seburuk pendapat kakak.
Aneh memang, kakakku yang bernama Mentari itu paling benci yang namanya matahari. Padahal dari namanya saja bisa ditebak kalau dia itu seperti matahari. Tapi, sikapnya sungguh tak sehangat matahari. Dia bersikap dingin kepada semua orang. Termasuk aku. Namun, aku tahu betul kalau sebenarnya dia menyayangiku. Pernah sekali aku bertanya kepadanya tentang sikapnya itu. Tapi, dia malah pergi meninggalkanku dengan tanda tanya besar yang entah kapan akan ia jawab.
Dari kecil aku dan kak Mentari tinggal tidak bersama orang tua. Mereka hanya sibuk dengan bisnisnya. Mereka bekerja di Melbourne. Sampai sekarang aku dan Kak Mentari belum pernah bertemu dengan mereka sejak lima tahun yang lalu. Dan sejak itu pula perubahan sikap Kak Mentari mulai terlihat. Ia begitu dingin dan pendiam. Aku tahu, mungkin ia masih menyimpan rasa tidak senang dengan sikap orang tuaku. Tapi, apa selama itu?
Lama aku dalam lamunan, tiba-tiba terdengar suara telepon. Aku bergegas menuju ruang tamu dan mengangkat telepon.
“Assalammu’alaikum. Siapa ya?” sapaku mengawali.
“Waalaikumsalam. Ini mama nak. Ini Aisyah ya?” jawab suara nun jauh disana.
“I…iya, ini beneran mama? Ma… aku kangen sama mama. Mama kemana aja sih? Mama kenapa nggak pernah pulang ke Indonesia? Kenapa mama hanya mengirim uang? Aku inginnya mama sama papa yang datang kesini langsung. Aku dan Kak Mentari kangen kalian.” Ujarku sembari mengusap air mata yang mengalir di pipiku.
“Syah, siapa yang nelpon?” tiba-tiba Kak Mentari muncul dari kamarnya.
“Ah… ini emm… ini….”
“Siapa sih? Coba sini kakak yang ngomong.”
“ah…. Iya kak.”
“Halo, siapa ya?”
“Mentari ya? Ini mama nak. Apa kabar kamu?”
“Mama? Mama siapa? Selama ini saya tidak mengenal yang namanya mama. Juga papa. Nggak! Maaf, mungkin anda salah sambung.”
Brakkk…..
Kak Mentari menutup telepon begitu keras. Dan, dia menatap aku dengan penuh kekesalan. Aku takut. Aku takut Kak Mentari marah terhadapku. Dan…. Dia malah memelukku dengan erat.
“Syah, kakak kan sudah berkali-kali bilang sama kamu kalau jangan pernah lagi berhubungan dengan mama ataupun papa. Sebenarnya mereka sudah berkali-kali telepon. Tapi, yang angkat selalu kakak. Dan selalu kakak tutup kalau tahu itu mereka. Mereka itu udah nelantarin kita. Lima tahun mereka pergi ninggalin kita tanpa kasih sayang. Memang benar mereka ngasih kita uang perbulannya. Dan kebutuhan kita terpenuhi akan materi. Namun, apa itu bisa membayar kasih sayang yang tidak mereka berikan selama lima tahun itu? nggak kan Syah? Mereka itu jahat. Seperti matahari. Mereka sok perhatian sama kita. Padahal perhatian mereka itu nggak tulus. Ya, seperti matahari yang memancarkan sinarnya yang kelihatannya indah, padahal keindahan itu justru menjerumuskan.” Kata Kak Mentari panjang lebar.
Aku melepaskan pelukan Kak Mentari. “Kak, kapan sih kakak itu nggak menghina matahari lagi? matahari kan juga ciptaan Allah kak. Allah menciptakan matahari juga pasti karena ada faidahnya. Nggak mungkin Allah menciptakan matahari untuk merugikan manusia. Dan mama sama papa itu sayang sama kita. Mereka masih peduli sama kita kak. Kakak jangan suudzan begitu dong. Matahari itu seperti mereka. Yang rela melakukan apa saja demi kebahagiaan kita. Matahari itu indah kak.” Aku membalas dengan nada lembut.
“Kamu ngomong apa sih? Kakak bingung deh. Semuanya bilang matahari itu indah. Berarti semuanya buta. Nggak bisa melihat yang sebenarnya. Kalau matahari itu jahat. Jahat!” ujar Kak Mentari dengan nada tinggi sembari berlari menuju ke luar rumah. Aku mengejarnya yang terus berlari sampai akhirnya berhenti di pantai.
Tiba-tiba ia duduk di tepi pantai sambil memandangi ombak laut yang berkejar-kejaran. Aku pun menemaninya duduk disebelahnya. Angin laut membelai jilbab yang membalut kepala kami berdua. Menerpa wajahku dan juga wajah Kak Mentari. Lama kami berdua terdiam dalam pikiran masing-masing. Aku membuka pembicaraan. “Kak, ombaknya lucu ya kejar-kejaran kayak waktu kita kecil dulu.” Ujarku mencoba menghapus sedikit kesedihan.
“Iya. Nggak seperti matahari yang sangat menyebalkan.” Balas Kak Mentari dengan nada dingin.
“Astaghfirullah Kak, kakak nggak boleh gitu. Matahari diciptakan oleh Allah untuk membantu manusia. Matahari adalah sumber energy terbesar bagi seluruh makhluk di bumi. Tanpa matahari kita tidak bisa tumbuh dengan normal. Tanpa matahari, tumbuhan tidak bisa melakukan fotosintesis. Tanpa matahari, hewan tidak tahu jalan kemana mereka mencari makanan. Matahari itu indah kak.” Terangku panjang lebar.
“Buktikan kalau matahari itu indah!” Tantang Kak Mentari padaku.
Aku menatapnya dan melihat air mukanya yang sedikit mencair. Aku masih terus berfikir bagaimana caranya membuktikan kalau matahari itu indah.
Tak terasa langit pun mulai merah. Menunjukkan kalau sebentar lagi malam tiba. Senja di ufuk barat mengingatkanku pada tantangan yang diajukan Kak Mentari. Aku menatap wajah Kak Mentari yang masih menerawang lurus ke arah laut.
“Kak, aku akan membuktikannya sekarang. Kakak lihat deh di sebelah barat sana. Kakak pikir itu apa?” tanyaku dengan menunjuk ke arah matahari yang hendak pergi ke peraduannya.
“Ya matahari. Emang apa?” jawabnya tanpa melihat ke arah yang kutunjuk.
“Yah…. Lihat dulu dong kak! Matahari itu beda lho sama yang biasanya.” Ujarku mencoba menarik perhatian Kak Mentari.
“Masak sih? Biasa aja.” Jawabnya sembari melirik ke arah matahari.
Aku yang tidak mau menyerah merangkul pundaknya dan berbisik di telinganya.
“Kak, pliss…. Lihat ke arah sana ya. Sebentar aja. Cuman lima menit kok. Katanya kakak mau melihat sisi keindahan matahari.” Bisikku dengan sehalus mungkin.
Kak Mentari menuruti kata-kataku. Dia menatap matahari yang akan terbenam itu. sungguh tak terduga. Dia tersenyum-senyum sendiri. Entah apa yang dipikirkannya sekarang. Tiba-tiba ia berucap.
“Syah, sekarang kakak tahu kenapa kamu begitu menyukai matahari. Ia memang indah. Bertahun-tahun kakak hidup, tapi baru kali ini kakak melihat momen seindah ini. Selama ini kakak mencoba tegar dalam kerapuhan yang kakak alami. Kakak mengalihkan ketegaran itu dengan membenci orang-orang disekitar kakak. Termasuk mama dan papa. Benar katamu. Mereka nggak salah. Kakak yang terlalu kejam menilai mereka. Makasih ya Syah, kamu udah membuat kakak mengetahui sisi indah matahari. Mulai sekarang kakak akan belajar untuk menyukai matahari. Dan menyayangi mama dan papa.” Ucap Kak Mentari sambil mengusap air mata yang mengalir di pipinya.
Kami berpelukan di saksikan oleh matahari dan ombak lautan juga nyiur kelapa yang melagukan keindahan. Allah memang selalu memberikan yang terbaik bagi hamba-Nya yang mau berusaha. Dan usahaku kali ini tidak sia-sia. Setelah matahari terbenam, kami memutuskan untuk pergi ke masjid dan shalat maghrib berjamaah. Tak lupa kami mendoakan papa dan mama agar mereka sehat selalu disana.
Sejak saat itu Kak Mentari sering mengajakku pergi ke pantai untuk sekedar melihat matahari terbenam. Dan sejak saat itu pula ia tidak lagi membenci mama dan papa. Bahkan ia sangat menyayangi mereka. Aku sangat bahagia atas perubahannya. Ia tidak lagi sedingin dulu. Ia sering berbincang denganku. Terima kasih Ya Allah, telah kau kirimkan kakak terbaik yang bisa membuat hariku menjadi lebih berwarna. Dan terima kasih atas matahari-Mu yang memancarkan sinarnya dan mendamaikan hati kami.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar